Life

Freedom

April 30, 2017

Terkadang hidup ini lucu. Ada saatnya tangan ini baunya serupa phone-case yang panas akibat penggunaan yang terus menerus. Gelisah ketika paket data tipis dan bisa habis sewaktu-waktu. Tidak tenang saat berada di daerah yang tidak terjangkau sinyal.

Tapi ada juga saatnya diri ini jauh lebih nyaman dengan keadaan sinyal yang mati enggan hidup pun tak mau. Seperti di kamar yang baru 2 bulan ini ditempati. Ini kali kesekian pindah, jaraknya hanya selantai dari kamar terkahir. Tapi kondisi jaringan jauh lebih memprihatinkan. Ini ajaibnya Jakarta. Dari awal tinggal di kota ini, sudah terkagum heran dengan kondisi susah sinyalnya. Waktu itu sempat berbekal tv dari kampung, lengkap dengan antena dalam, tapi layarnya selalu dipenuhi semut hitam yang sebarannya tidak normal. Provider tertentu tidak bisa digunakan sama sekali. Herannya, keberlakuan provider ini berbeda untuk tempat yang hanya berjarak puluhan meter. Terhadap fenomena hacking webpage provider yang mencuat baru-baru ini, sebenarnya saya tidak sepenuhnya setuju. Well, dia pernah jadi andalan sebelum pindah ke tempat ini.


Akhir-akhir ini rasanya terlampau tentram, terlebih saat weekend ketabrak libur nasional. Notifikasi sosial media seolah sedang dalam mode senyap, padahal volume dering diatur 75% dan paket data (terlihat) berjalan normal. Sesaat sinyal hinggap di handphone barulah semua notifikasi masuk bersamaan. Tapi terlalu banyaknya hal yang harus dilihat membuat saya justru jadi tidak berminat. Bukan ingin melarikan diri, tapi biarlah seperti ini. Kalau benar-benar penting atau benar-benar bosan, kadang saya berjalan ke halaman atau duduk-duduk di bangku lantai atas. Kadang, hehe. Atau jika ingin update sesuatu biarkan saja sistem berjalan mengunggah postingan sampai sinyal hinggap, atau sekedar menyimpannya di draft untuk diposting kemudian ketika di kantor atau di tengah bepergian. Seperti saat ini.

Random

Dari embun

April 22, 2017

Sebutir embun pagi bertengger di licinnya muka daun
Ia selalu baik saja
Meski hanya berteman ayunan ilalang
Terbiasa sendiri menyambut cahaya fajar
Lewatkan siang dan malam
Untuk sambut fajar berikutnya
Dan selanjutnya
Seterusnya

Embun masih baik saja
Hingga datang satu senja
Bersamanya hadir semburat jingga
Terdengar angin berpadu
Tergerak pijakan tempat beradu
Burungpun tak percaya
Embun pernah rindukan senja

Dan embun masih baik saja
Meski senja tak pernah janjikan fajar
Seketika badai menari kencang
Menjadikan embun tergelincir
Menghantam batuan kasar
Terpercik keras berhamburan

Dan embun masih baik saja
Meski memenjarakan sesal dalam relungan
Kini menyambut fajar tak semudah sebelumnya
Ingin menguap meski matahari bersembunyi

Dan embun masih baik saja
Baginya semua itu mimpi sementara
Ingin kembali sedia kala
Tinggalkan yang terkenang
Mungkin senja tetap akan datang
Meski tidak dirindukan


I N S T A F E E D

Comments

Followers