Random

Kepada Angin

September 20, 2017

Wahai angin
Yang bisikannya mulai didengar
Meski samar terbawa perasaan

Ketahuilah wahai angin
Bahwa embun masih baik saja
Sungguh baik saja

Ketahuilah wahai angin
Ia hanya bersandar pada Pencipta
Tak lekat pada apapun yang bukan miliknya

Ia mengais puing makna
Di balik melintasnya fajar dan senja
Demi merasakan indah deruanmu

Katakanlah wahai angin
Apakah setiap celahnya mampu kau terima
Begitupun yang pernah singgah di benaknya, dan hatinya

Ketahuilah wahai angin
Ia mulai menanti di sana
Dalam doa ia bernuansa


Random

Merangkak dari tempurung

Juli 25, 2017

Kita seringkali sok tahu dengan masa depan yang berkaitan dengan apapun. Kita nyaman dengan tempat sekarang, sehingga membayangkan kehidupan nanti tidak akan jauh dari hari ini. Kita mengira hanya bisa hidup di sekeliling orang-orang yang selalu menemani sampai saat ini. Kita menggambar garis batas sendiri, kita mendirikan tembok tanpa berpikir untuk membangun pintu gerbang. Hingga tiba waktunya kita menyadari bahwa dunia ini terlampau luas untuk ditinggali sepojok petaknya saja. Siapa yang akan tahu atmosfer di luar sana tanpa kita sendiri merasakannya. 

Let's just be open, o mind. 



Surabaya, 25 Juli 2017.

Ketika bapak-ibu calon pengawas sensus sedang sibuk mengerjakan soal ujian (pendalaman materi). Sambil mengawasi mereka, browsing, olshopping, menjawab pesan-pesan di media chatting, dan akhirnya menemukan ruang ini.

Campus Life

Tentang USM STIS

Juni 21, 2017

STIS menyongsong hari depan
Melahirkan tunas-tunas harapan
Profesional penuh kemandirian
Tak gentar hadapi tantangan

Tekad baja dan semangat membara
Membangun perstatistikan negara
Menyajikan data apa adanya
Objektif tanpa rekayasa

Sekolah Tinggi Ilmu Statistik
Medan bakti membangun negeri
Bersama.. kami mengabdi
Untuk ibu pertiwi

Tak kenal lelah... pantang menyerah
Mari tegap mengayun langkah
Curahkan... segala daya
Tuk Indonesia Jaya

Begitulah mars STIS (baca: es te i es; bukan stis apalagi setis) yang dulu saya hapalkan ketika masa orientasi. Kesannya berat gimana gitu ya. Tunas harapan, apa adanya, tanpa rekayasa. Sementara British Prime Minister Benjamin Disraeli mengatakan "There are three kinds of lies: lies, damned lies, and statistics". Kalimat ini terlampau well said untuk menggambarkan 'keluwesan' statistik. Karena dengan jalur yang ilmiah dapat membuat seolah-olah analisis terhadap data menjadi sebuah kebohongan padahal itulah hal yang sebenarnya. Tidak ada yang salah dengan statistik, yang ada hanya seberapa besar error yang ditoleransi, haha. 

Anyway... ujian masuk STIS 2017 tengah berlangsung. Belum lama ini ada beberapa anak tetangga yang menanyakan tips lolos ujian, sempat saya kirimkan buku USM untuk dipelajari dan ternyata ada yang berhasil lolos ke tahap selanjutnya. Mungkin sekarang ada yang sedang getol browsing pengalaman ujian tahap lanjutan. Daripada bingung-bingung menjelaskan tips dan trik yang saya juga nggak pernah tahu, lebih baik kita mengingat sejarah saja, hehe. Mungkin agak terlambat mengingat sekarang sudah diumumkan hasil tahap kedua. Sebenarnya sudah pernah saya ceritakan detil, hanya saja campur aduk dengan berbagai curhat receh masalah galau-galau jaman dulu, wkwk. 

Sekitar enam tahun yang lalu (waah enam tahun, jika waktu itu ada murid baru masuk SD berarti tahun ini sudah lulus, wkwk) saya ditakdirkan belajar di kampus berseragam biru di Jalan Otista Raya No. 64 C, Jakarta. Tahapan tes yang dilalui berbeda dengan tahun ini, tapi pada prinsipnya masih sama, sama-sama 'angel' dan cenderung menyebabkan kepasrahan dini. Saya yang tidak tau menau apa itu STIS direkomendasikan oleh mamak bapak tercinta. Kebetulan saya tengah tinggal sementara di Jogja sambil mengikuti bimbingan STAN, tes SNMPTN, dan nonton konser. Di sela-sela kegiatan itu, saya memutuskan untuk mencoba ujian masuk STIS. Karena tinggal sendirian di Jogja, dan kurang paham daerah sana kecuali daerah yang sering saya lewati, di hari H ujian saya berpikiran "kalo ketemu tempatnya ya ikut, kalo enggak yaudah main aja" haha. Naik transjogja, sambung jalan kaki, alhamdulillah tempatnya ketemu dan ujianlah saya. Agak-agak cuek pasrah sih, liat pendaftarnya yang kalau ditotal mencapai 26.000 di seluruh Indonesia, sementara yang diterima sekitar 400. 

Waktu itu, ujian masuk terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama ujian tertulis (Matematika, Bahasa Inggris, dan Pengetahuan Umum), tahap kedua psikotes dan wawancara, tahap terakhir tes kesehatan. Bedanya dengan ujian masuk sekarang adalah... diselipkannya ujian TKD CPNS di tahap kedua, jadi ditotal ada empat tahap. Enaknya sistem ujian sekarang, ketika lulus kuliah nanti beban TKD sudah lenyap, bebas dari pikiran undang-undang, pancasila, sejarah dan kawan-kawannya. Beda cerita dengan jaman saya dulu yang...... ah sudahlah haha. Nggak enaknya, kemungkinan gugur lebih besar di awal, mengingat soal TKD itu ajaib, ditambah sistem computer-based yang membuatnya terkesan seperti main timezone, wkwk. Selain itu, otomatis persiapan yang dilakukan lebih banyak, terutama persiapan hati nge-klik pengumuman di setiap tahapnya, haha. Nggak ding, catatan khusus untuk TKD itu penting, hal-hal aneh bisa terjadi di tes TKD ini dan kemungkinan tidak lolos sangatlah random. Pengalaman dari belajar modul-modul yang beredar, mungkin 99% tidak ada yang keluar lagi di soal yang saya kerjakan. 

Kembali ke tahap satu, dulu saya tidak melakukan persiapan khusus. Malam sebelumnya kelelahan keliling Jogja karena pindah kosan. Yang saya lakukan waktu itu hanya shalat malam dan telfon mama di rumah wkwk. Sepintas saya baca modul bimbingan kampus sebelah berharap soal matematika tidak jauh varians nya. Ternyata, di hari H saya mengalami dismenorhea yang nyerinya sampai ke ubun-ubun, ditambah lokasi ujiannya di tribun GOR yang bagi saya (literally) tidak ada tempat bersandar. Kebetulan saya nggak bawa alat tulis lengkap, kalau tidak salah saya dipinjami peserta ujian di sebelah, hehe. Waktu mengerjakan ditentukan tiap bagian, tidak boleh mengerjakan bagian tertentu jika waktunya sudah habis, tidak boleh ijin ke toilet. Dan bismillah, saya tidak memiliki ambisi apa-apa, keinginan orang tua yang membuat saya punya pemikiran "minimal dateng ujian, perkara lulus Allah yang tentukan jalan". Berbekal jam tangan (ini penting) meskipun harganya 35ribuan di emperan nggak masalah, yang penting jam dan menitannya jalan. Yang saya pikirkan dengan waktu yang terbatas hanya memperkirakan berapa soal yang minimal harus saya kerjakan tiap bagiannya sehingga hasilnya seimbang di ketiga poin, karena kelulusan ditentukan dengan menimbang ketiganya. Intinya, harus proporsional. Akhirnya saya berusaha mengerjakan kurang lebih setengah dari keseluruhan soal, kecuali Bahasa Inggris (ngarangnya lebih bebas wkwk). Cara penilainnya, benar dinilai plus dan salah dinilai minus. Untuk Matematika, emm hampir seluruh soal sebenarnya saya nggak bisa jawab, dan sebagai soal yang keluar di awal cukup membuat mental-breakdown wkwk. Tapi saya punya keyakinan, soal yang sudah terlanjur menarik perhatian, terlanjur memakan waktu untuk dihitung dan menghabiskan space oret-oretan, maka harus saya isi apapun yang terjadi dengan menerapkan "ilmu kira-kira" disertai lafadz bismillah. Beban hilang ketika lembar jawab sudah setengah terisi, karena waktu habis jadi langsung memalingkan perhatian ke bagian selanjutnya, Bahasa Inggris. Soalnya beragam sih, kalau ketemu bacaan yang panjangnya nyaingin koran rasanya ......... udah isi aja. Memasuki bagian terakhir Pengetahuan Umum, mulai dari sejarah manusia purba sampai perang dan isu politik terkini semua ada. Di sinilah saya merasa "aku taunya apa sih...". Saya yang suka rebutan channel drama vs berita dengan bapak memang wajar saja merasakannya wkwk, lagi-lagi ngarang, ditutup dengan hamdalah... 

Setelah dinyatakan lulus tahap satu, dilanjutkan dengan tes tahap dua yang terdiri dari psikotes dan wawancara. Psikotes dilakukan di aula kampus UII yang dinginnya minta maaf waktu itu, sedangkan wawancara dilakukan di kantor-kantor BPS Provinsi maupun Pusat. Saya memang lebih suka mengerjakan soal-soal macam psikotes ini, karena nggak perlu belajar, hehe. Kemarin, ada yang menanyakan "punya buku psikotesnya nggak ?" sebenarnya menurut saya sebelum melakukan tes ini lebih baik istirahat cukup, makan cukup, berdoa yang banyak, kondisikan mood sesantai mungkin, dan nggak boleh ketinggalan minta doa restu orang tua. Selain itu, entah berlaku atau tidak untuk orang lain, tapi buat saya, terkadang ketika terlalu berpikir keras di satu soal malah cenderung sulit menemukan jawaban, just keep santai dan ditambah sedikit 'songong' (dalam artian tetap percaya diri apapun jawaban yang dipilih). Mengenai soal masih standar seperti tes-tes IQ dan kepribadian pada umumnya. Di ujian ini kebetulan saya tidak sendirian, berbarengan dengan keperluan mama di UNS, akhirnya dianter, ditungguin, hehe. Sebenarnya dari jaman TK dulu saya paling tidak suka diantar dan dijemput ke sekolah apalagi ditunggu/ditengok dari jendela, rasanya apa sih ya, nggak macho gitu. Tapi kali ini saya oke saja karena sepulang ujian di-drop off di stadion Mandala Krida nonton band kesayangan waktu itu.... GIGI, wkwk (yang ini tidak usah ditiru dan diamalkan). Beberapa hari kemudian saya mengikuti tes wawancara di BPS Provinsi Jogja, kali ini bareng teman SMA dan beberapa teman yang saya kenal di tengah-tengah ujian. Rasanya.... baru kali ini saya deg-degan haha. Yang ditanyakan sepertinya selalu sama, seputar pancasila, undang-undang, dan sikap atau interaksi dengan lingkungan sekitar. Ketika ditanya tentang UU berapa untuk peraturan berlalulintas dll, saya yang selalu kesulitan mengikuti mata pelajaran kewarganegaraan dan sulit menghapalkan undang-undang cuma bisa menjawab "apa ya bu, emm maaf saya lupa" beberapa kali, wkwk. Pokoknya saya berusaha sejujur mungkin, minimal saya hapal tata urutan peraturan perundang-undangan Indonesia, selebihnya serahkan kepada yang berwenang, karena sudah berusaha semampunya, haha.

Menunggu pengumuman tahap kedua, ternyata pengumuman SNMPTN sudah rilis dan dikatakan lulus. Alhamdulillah betapa senangnya keluarga saya waktu itu, sampai sujud syukur dilakukan di masjid agung juga syukuran dengan tetangga terdekat. Tapi dalam hati sedikit gusar "gimana ya kalau STIS juga lolos".

Kembali ke tahap dua, dan eng ing eeeng.. ternyata lolos. Alhamdulillah di sinilah saya kemudian sedikit menggalau, ada di postingan jaman dulu, kalau diingat-ingat lumayan lucu juga hehe. Hal ini umum untuk mahasiswa STIS karena pengumuman tahap akhir selalu paling akhir, jadi kebanyakan mereka yang berkuliah di sini sudah pernah menjajal jaket almamater kampus lain dan mengeluarkan lumayan banyak uang pendaftaran di kampus negeri. Bahkan ketika kuliah umum penerimaan mahasiswa diadakan di kampus, sempat diceritakan oleh beberapa wali mahasiswa 'berapa uang terbanyak yang sudah dikeluarkan dan akhirnya beralih menjatuhkan pilihan pada STIS'. Alasannya macam-macam, dan alasan yang paling standar adalah biaya kuliah gratis dan tiap bulan diberikan tunjangan ikatan dinas, hehe.

Singkat cerita, tes tahap tiga tetap saya lakukan berbarengan dengan daftar ulang SNMPTN, Solo-Jogja dijabanin. Kali ini saya harus puasa sebelumnya, karena tahap tiga adalah tes kesehatan. Jujur tes dilakukan dengan seperempat hati, wkwk. Kali ini ditemani mama, kebetulan beliau masih sewa kos di Solo tepat belakang kampus UNS. Dan rencananya kamar mama akan jadi kamar saya ketika kuliah, motor pun sudah disiapkan di rumah. Setelah membereskan urusan daftar ulang, dengan kondisi letih lelah lunglai, saya mengikuti tes kesehatan di Jogja. Yang dilakukan hanya tes darah, urin, dan rontgen thorax. Tapi saya dengar di beberapa wilayah Indonesia, tes kesehatannya lebih lengkap, tergantung rumah sakit yang ditunjuk oleh BPS Provinsi terkait. Malam sebelumnya, saya disarankan minum air putih yang cukup dan ditambah dengan susu bergambar naga bermerk beruang wkwk. Menurut pengalaman angkatan sebelumnya, jika sudah sampai tes kesehatan, sudah dapat dipastikan pendaftar akan lolos, memang terlihat dari jumlah yang bertahan sudah mendekati quota.

Dan ternyata, Allah menakdirkan saya lolos. Lumayan penuh drama ketika menentukan sikap untuk melangkahkan kaki ke kampus ini. Pertanyaan dan komentar dari teman-teman yang sebagian besar menanyakan "kenapa dilepas ? kenapa ambil STIS ? kamu nggak nyesel ? fk susah loh.. aku aja nyari nggak dapet-dapet, kamu nih ngurang-ngurangin jatah... blablabla" sebenarnya cukup membuat saya hampir malas menjawabnya, wkwk. Para orang tua juga ada yang tidak mau kalah "kalo anakku pasti udah tak suruh ambil fk nya". Yang jelas masing-masing kita punya pertimbangan, kita yang memilih dan menjalani, orang lain yang berkomentar, tapi tetap Allah yang selalu ada untuk menemani ke mana kita melangkah. Dan Alhamdulillah, diawali dengan pilihan saya waktu itu, semuanya sudah dipermudah sampai saat ini. Mungkin dulu saya hanya berpendapat kalau orang tua dan keluarga mendukung penuh, pasti semua enak, kita pun nggak ada beban untuk bertanggung jawab atas pilihan yang diambil, meskipun dilakukan dengan bumbu "keterpaksaan". Tapi setelah melalui waktu-waktu kuliah dan sampai sekarang sudah bekerja, kemudian saya menyadari bahwa dulu saya masih sangat kekanak-kanakan, tanpa tahu bahwa apapun yang saya pilih dalam hidup ini adalah tanggung jawab saya, terlepas dari apapun yang saya pertimbangkan dan siapapun yang saya dengarkan. Intinya, jika saya punya niatan yang diyakini baik dan alasan kuat untuk memilih, maka saya harus terus mengingatnya.

Berikut video sekilas tentang STIS:

Dan dinamika kuliah akan saya sampaikan di postingan selanjutnya, semoga bermanfaat, hehe.





Life

Freedom

April 30, 2017

Terkadang hidup ini lucu. Ada saatnya tangan ini baunya serupa phone-case yang panas akibat penggunaan yang terus menerus. Gelisah ketika paket data tipis dan bisa habis sewaktu-waktu. Tidak tenang saat berada di daerah yang tidak terjangkau sinyal.

Tapi ada juga saatnya diri ini jauh lebih nyaman dengan keadaan sinyal yang mati enggan hidup pun tak mau. Seperti di kamar yang baru 2 bulan ini ditempati. Ini kali kesekian pindah, jaraknya hanya selantai dari kamar terkahir. Tapi kondisi jaringan jauh lebih memprihatinkan. Ini ajaibnya Jakarta. Dari awal tinggal di kota ini, sudah terkagum heran dengan kondisi susah sinyalnya. Waktu itu sempat berbekal tv dari kampung, lengkap dengan antena dalam, tapi layarnya selalu dipenuhi semut hitam yang sebarannya tidak normal. Provider tertentu tidak bisa digunakan sama sekali. Herannya, keberlakuan provider ini berbeda untuk tempat yang hanya berjarak puluhan meter. Terhadap fenomena hacking webpage provider yang mencuat baru-baru ini, sebenarnya saya tidak sepenuhnya setuju. Well, dia pernah jadi andalan sebelum pindah ke tempat ini.


Akhir-akhir ini rasanya terlampau tentram, terlebih saat weekend ketabrak libur nasional. Notifikasi sosial media seolah sedang dalam mode senyap, padahal volume dering diatur 75% dan paket data (terlihat) berjalan normal. Sesaat sinyal hinggap di handphone barulah semua notifikasi masuk bersamaan. Tapi terlalu banyaknya hal yang harus dilihat membuat saya justru jadi tidak berminat. Bukan ingin melarikan diri, tapi biarlah seperti ini. Kalau benar-benar penting atau benar-benar bosan, kadang saya berjalan ke halaman atau duduk-duduk di bangku lantai atas. Kadang, hehe. Atau jika ingin update sesuatu biarkan saja sistem berjalan mengunggah postingan sampai sinyal hinggap, atau sekedar menyimpannya di draft untuk diposting kemudian ketika di kantor atau di tengah bepergian. Seperti saat ini.

Random

Dari embun

April 22, 2017

Sebutir embun pagi bertengger di licinnya muka daun
Ia selalu baik saja
Meski hanya berteman ayunan ilalang
Terbiasa sendiri menyambut cahaya fajar
Lewatkan siang dan malam
Untuk sambut fajar berikutnya
Dan selanjutnya
Seterusnya

Embun masih baik saja
Hingga datang satu senja
Bersamanya hadir semburat jingga
Terdengar angin berpadu
Tergerak pijakan tempat beradu
Burungpun tak percaya
Embun pernah rindukan senja

Dan embun masih baik saja
Meski senja tak pernah janjikan fajar
Seketika badai menari kencang
Menjadikan embun tergelincir
Menghantam batuan kasar
Terpercik keras berhamburan

Dan embun masih baik saja
Meski memenjarakan sesal dalam relungan
Kini menyambut fajar tak semudah sebelumnya
Ingin menguap meski matahari bersembunyi

Dan embun masih baik saja
Baginya semua itu mimpi sementara
Ingin kembali sedia kala
Tinggalkan yang terkenang
Mungkin senja tetap akan datang
Meski tidak dirindukan


I N S T A G R A M

Comments

Followers