Arguments

Hurt

Oktober 30, 2016

Sakit, menyakiti, tersakiti, dan disakiti adalah hal biasa, karena manusia punya syaraf yang bisa merasakan sakit. Bersyukur kan. Kalo digebukin tapi nggak ngerasa sakit, apa nggak kasihan badan kita, hehe.

Sayangnya, kadang sakit-menyakiti hanya disadari oleh si penderita. Sedangkan si empunya perilaku ini tidak gampang untuknya menerima sinyal yang sama. Tiba-tiba keinget gambar susunan syaraf, sinapsis dan kawan-kawannya, apa sih ya, nggak tau deh hehe.

Intinya, ada satu hal yang sangat saya takutkan ketika masih menjadi penghuni dunia ini, yaitu menyakiti orang lain tanpa disdari --- sounds awful

Saya punya suatu pengertian sendiri tentang toleransi terhadap perilaku orang-orang di sekitar. Sebenarnya, tentang menyakiti dan tersakiti ini, adalah seperti sebuah penelitian. Sebagai peneliti, memberikan perlakuan yang sama terhadap spesimennya. Namun masing-masing objek memberikan reaksi yang berbeda. Contoh nyatanya, saya ledek salah satu teman sebut saja si Kacang, dengan pernyataan yang singkat namun ya memang meledek, Si Kacang biasa saja. Kemudian saya coba melakukan hal serupa kepada si Kedelai, ternyata dia memberikan reaksi yang tidak terduga. Kedelai ngambek, dia berendam, mengelupas, kemudian jadi tempe, oke bercanda, hehe. 

Jadi apakah ini salah si Kedelai yang terlalu menelan ledekan ke dalam hatinya lalu berubah menjadi tempe, atau hanyalah saya yang kurang memiliki sense dan dengan percaya diri berhipotesis bahwa si Kacang-Kedelai akan memberikan reaksi yang sama ?

Bukan dua-duannya, menurut saya.

Kembali lagi ke syaraf, Allah menciptakan makhluk dengan sebaik-baik bentuk. Dengan demikian uniknya, bahkan si kembar pun tidak akan pernah memiliki susunan yang 100% sama. Masih menurut saya, ketika ada yang menyakiti dan tersakiti, yang berbeda di sini adalah tingkat "maklum" seseorang. Seberapa maklum si Kacang menanggapi perbuatan saya. Ketika taraf kemakluman Kacang 93%, sebesar 7% kaget, selebihnya ia menerima dengan lapang dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Lain halnya, si Kedelai yang diciptakan dengan kemakluman yang lebih rendah, mungkin sekitar 64%, sisanya ia artikan sebagai makna yang lain, bukan bercanda, like I mean it

Dan yang perlu saya lakukan sepertinya adalah belajar dari pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh Kiki, di baris terbawah buku tulisnya, "experience is the best teacher". Bagaimana saya bertindak dengan memperhatikan taraf kemakluman makhluk di sekitar saya. Hal ini tidak akan pernah saya ketahui begitu saja. Perlu melakukan rangkuman terhadap rentetan kejadian. 

Tapi, ada satu lagi yang mengusik benak. Bagaimana kalau ada si Susu yang perilakunya lagi-lagi berbeda dari Kacang maupun Kedelai. Sebenarnya dia merasakan sakit, tapi memilih untuk menyembunyikannya. Justru terhadap yang seperti Susu inilah saya paling takut. Karena ia tidak membiarkan orang lain tahu tentang rasa sakitnya. Acts like it doesn't care but actually it's broken

Semoga, selalu dihindarkan dari perilaku-perilaku yang menyakiti orang lain.

Terima kasih inspirasi malam ini, susu kacang kedelai.




Work Life

Back Again

Oktober 25, 2016

Hello there... Long time no blogging :)


Mungkin laman ini harus ditiupkan kembali ruhnya hehe. Dimulai dengan poles tampilan, meskipun cuma tempel template gratisan yang dipermanis dengan header ala-ala one minute photoshop editing. Jumpa lagi esok. Karena sesungguhnya besok ada ...... [rakor, pulang malem, ngoding mentok, nyari bahan paper, bantu kerjaan orang] . So, welcome back to me !

I N S T A F E E D

Comments

Followers