Curhat Session

My hijab journey - Part 1

Desember 12, 2016

12.12 di penghujung weekend panjang, sendirian di lantai 2 kosan ke-3 (semenjak tinggal di Jakarta). Yang lain masih di jalan mungkin, sepulang dari ngetrip atau mudik. Sepi ya ? Sepi dong hehe. Nggak juga sih, ada suara heksos bergemuruh :')

Jadi sebenernya udah lama saya pengen menuangkan setetes dua tetes cerita tentang salah satu bagian di kehidupan yang baru seumur jagung rebus ini. Banyak sih cerita-cerita di luaran sana yang hebat-hebat, inspiratif, medianya kece macem infografis vlog manequinchallenge apalah apalah, aku mah apa. Tapi, bayi kembarpun kisah hidupnya beda, jadi nggak ada ruginya ya cerita. Kalo rugi cari modal lagi hehe. Intinya jangan pernah takut, malu, bosen buat berbagi something good. Jangan isinya cuma ngeluh-ngeluh nggak jelas di medsos (oke, ini nasehatin diri sendiri). Atau lagi jaman-jamannya panas-panasin sayur penganut keimanan yang lain dengan mengorek keburukan demi keburukan, jangan lupakan keindahan-keindahan yang ada dalam kepercayaan dan keimanan sendiri. 

Indah, terasa indah. Indah dewi pertiwi. Yang namanya indah pasti perempuan, kalo ada yang laki bisa lapor saya, saya cuma penasaran aja cerita orang tuanya yang ngasih nama, hehe. Dan yang indah biasanya sih terlindungi, untouchable, contohnya waktu milih-milih bros di eli*za*beth kan ada tuh yang dipajang di luar biasanya yang biasa-biasa aja kualitasnya, "cantiknya" kurang, atau stok lama udah agak-agak karatan atau luntur sepuhannya. Terus ada yang ditaro di dalem etalase kaca, cantik-cantik masya Allah, mihil mihiiil.... Bukibuk harus pegangan tangan suami kalo lewat ya, yang jomblo pegang dompet erat-erat aja, takut copet. Yang masih cpns kalo uang tukin belum keluar mending ditahan. Yah gitu deh. Intinya apa ya hehe. Mau elizabeth kek, diana, charles, william, yang lebih cantik, yang lebih mahal banyak, yang lebih berkualitas, pasti lebih dijaga.

Jaganya perempuan gimana ? Ya sesuai judul postingan ini dongs, masa saya bahas dijagain "suami" lha wong masih jom......

Ke-oke. Awalnya saya mengenal hijab adalah sejak lahir. soalnya liat mama di rumah hehe. Serius ah. Salah satu tokoh inspiratif saya ya mama. Tentang hijab juga. Alasan bapak milih mama juga katanya dari sekian banyak perempuan di desa, cuma mama yang berhijab. Ciye-ciye. 

Berawal dari TK, kebetulan sekolah saya sekolah islam, jadi di hari-hari normal seragamnya berkerudung. Intermezo dulu deh, istilah yang saya pakai di sini : hijab=seluruh kain yang menutupi aurat wanita terdiri dari 3 komponen (pakaian rumah, khimar/kerudung, jilbab=pakaian atau terusan longgar untuk digunakan di hadapan umum). Istilah-istilah dirangkum dari penjelasan ust. Felix Y. Siauw. Sebenernya banyak pendapat untuk pengertian istilah-istilah itu, feel free untuk mengutip yang mana asal jelas sumbernya ya kan ya kaaan. Kayak nulis skripsi aja.

Lanjut ke TK. Dulu kayaknya masih nggak paham sih berhijab buat perempuan baligh itu sewajib apa. Taunya kalau lagi shalat pake mukena, lagi ngaji pake kerudung baju panjang, lagi lebaran bajunya baru  stelan muslim, yah masih los-polos gitu. Malah kalo pulang ke rumah simbah yang dititipin, biasanya di jalan itu kerudung dibuka dikit, disingkep ke atas tapi masih nemplok di kepala, terus seolah-olah rambutnya panjang kayak barbie -- eh eh, rambutku panjang loooh -- dengan bangganya.

Masuk SD negeri, ya semua pake baju pendek rok pendek. Ada sih 1 adek kelas yang udah pake kerudung. Waktu itu ngaji kitab fiqh sama bapak (kayaknya fiqh wanita, lupa, ada 2 jilid, pokoknya dia diartiin tiap kata tapi artinya arab-dibaca-jawa like "faslun: utawi ikilah pasal") jadi ya udah sedikit lebih ngerti kapan batasan perempuan itu wajib menutup aurat sempurna. Sebenernya udah ngerasa sebel juga sih waktu itu. Ceritanya pindah ke kota, temen-temen cowok itu usil-usil. Suka ngintip-ngintip nggak jelas. Kalo inget ada rautan yang baliknya kaca, itu salah satu senjatanya. Pura-pura jatoh, ngumpet-ngumpet di kolong meja. Atau kalo lagi dapet jatah nyalin rangkuman di papan tulis bisa jadi korban juga. Mengingat badan saya masih pendek (emang sekarang tinggi ?) jadi harus pake bangku, udah deh kalo ada angin dikit dia terbang dengan sendirinya. Kalo ada yang pura-pura pulpennya jatoh, bungkuk dikit udah bisa liat -_- Tapi selalu pake celana pendek sih di dalem, jadi aman. Paling diledek aja "eh kemaren item, sekarang ungu, besok apa ya", abis itu si anak jail langsung dikejar, ditendang, diinjek-injek sampe dengkulnya lecet deh, hehe. SD jarang pake kerudung, paling kalo ada acara tahun baru islam, maulid, syawal, isra' mi'raj. Di rumah atau main nggak pernah pake kerudung. Hmm, kayaknya dulu tomboy juga sih. Suka pake celana jeans pendek, kaos oblong. Punya rok kayaknya cuma satu, itupun harus jeans bahannya. Hobinya sepedaan sama manjat pohon jadiiiii ya gitu. Rambut juga selalu pendek. Biasanya tiap pagi dikucir-kucir cantik sama mama, nyampe sekolah lepas semua balik kayak rambut singa hehe. Dari hal itu mungkin akan lebih simple buat saya kecil kalau seragamnya panjang dan berkerudung, seenggaknya saya nggak rempong sama intipan-intipan nggak jelas, dan kuciran-kuciran rambut yang bikin risih.

Lanjut SMP. di sinilah awal mula timbul kesadaran untuk berhijab baik di sekolah maupun di luar rumah. Awalnya karena pengiritan juga sih haha. Soalnya pelajaran agama wajib berkerudung, jadi bikin bajunya cukup satu jenis aja, panjang semua, hehe. Di pertengahan SMP mulai baligh, mengalami perubahan-perubahan. Tapi waktu itu lepas-pasang-lepas-pasang sih.

Kenapa lepas pasang ? Lanjut besok lagi deh, panjang juga ceritanya, sudah malam, ikan bobo. Besok ngantor, ada ayyamul bidh juga loh, hehe. 

Okaiii, sekian dulu, salam.




Arguments

Hurt

Oktober 30, 2016

Sakit, menyakiti, tersakiti, dan disakiti adalah hal biasa, karena manusia punya syaraf yang bisa merasakan sakit. Bersyukur kan. Kalo digebukin tapi nggak ngerasa sakit, apa nggak kasihan badan kita, hehe.

Sayangnya, kadang sakit-menyakiti hanya disadari oleh si penderita. Sedangkan si empunya perilaku ini tidak gampang untuknya menerima sinyal yang sama. Tiba-tiba keinget gambar susunan syaraf, sinapsis dan kawan-kawannya, apa sih ya, nggak tau deh hehe.

Intinya, ada satu hal yang sangat saya takutkan ketika masih menjadi penghuni dunia ini, yaitu menyakiti orang lain tanpa disdari --- sounds awful

Saya punya suatu pengertian sendiri tentang toleransi terhadap perilaku orang-orang di sekitar. Sebenarnya, tentang menyakiti dan tersakiti ini, adalah seperti sebuah penelitian. Sebagai peneliti, memberikan perlakuan yang sama terhadap spesimennya. Namun masing-masing objek memberikan reaksi yang berbeda. Contoh nyatanya, saya ledek salah satu teman sebut saja si Kacang, dengan pernyataan yang singkat namun ya memang meledek, Si Kacang biasa saja. Kemudian saya coba melakukan hal serupa kepada si Kedelai, ternyata dia memberikan reaksi yang tidak terduga. Kedelai ngambek, dia berendam, mengelupas, kemudian jadi tempe, oke bercanda, hehe. 

Jadi apakah ini salah si Kedelai yang terlalu menelan ledekan ke dalam hatinya lalu berubah menjadi tempe, atau hanyalah saya yang kurang memiliki sense dan dengan percaya diri berhipotesis bahwa si Kacang-Kedelai akan memberikan reaksi yang sama ?

Bukan dua-duannya, menurut saya.

Kembali lagi ke syaraf, Allah menciptakan makhluk dengan sebaik-baik bentuk. Dengan demikian uniknya, bahkan si kembar pun tidak akan pernah memiliki susunan yang 100% sama. Masih menurut saya, ketika ada yang menyakiti dan tersakiti, yang berbeda di sini adalah tingkat "maklum" seseorang. Seberapa maklum si Kacang menanggapi perbuatan saya. Ketika taraf kemakluman Kacang 93%, sebesar 7% kaget, selebihnya ia menerima dengan lapang dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Lain halnya, si Kedelai yang diciptakan dengan kemakluman yang lebih rendah, mungkin sekitar 64%, sisanya ia artikan sebagai makna yang lain, bukan bercanda, like I mean it

Dan yang perlu saya lakukan sepertinya adalah belajar dari pengalaman. Seperti yang dikatakan oleh Kiki, di baris terbawah buku tulisnya, "experience is the best teacher". Bagaimana saya bertindak dengan memperhatikan taraf kemakluman makhluk di sekitar saya. Hal ini tidak akan pernah saya ketahui begitu saja. Perlu melakukan rangkuman terhadap rentetan kejadian. 

Tapi, ada satu lagi yang mengusik benak. Bagaimana kalau ada si Susu yang perilakunya lagi-lagi berbeda dari Kacang maupun Kedelai. Sebenarnya dia merasakan sakit, tapi memilih untuk menyembunyikannya. Justru terhadap yang seperti Susu inilah saya paling takut. Karena ia tidak membiarkan orang lain tahu tentang rasa sakitnya. Acts like it doesn't care but actually it's broken

Semoga, selalu dihindarkan dari perilaku-perilaku yang menyakiti orang lain.

Terima kasih inspirasi malam ini, susu kacang kedelai.




Work Life

Back Again

Oktober 25, 2016

Hello there... Long time no blogging :)


Mungkin laman ini harus ditiupkan kembali ruhnya hehe. Dimulai dengan poles tampilan, meskipun cuma tempel template gratisan yang dipermanis dengan header ala-ala one minute photoshop editing. Jumpa lagi esok. Karena sesungguhnya besok ada ...... [rakor, pulang malem, ngoding mentok, nyari bahan paper, bantu kerjaan orang] . So, welcome back to me !

Curhat Session

My see-saw-like life

Januari 30, 2016

Halo blog, cuap-cuap dikit ya, udah lama dianggurin..

00.16 dan mata ini belum mau merem. Sekarang weekend, biasanya tidur cepet, bangun subuh lanjut tidur lagi, gitu aja sampe tiba-tiba udah senen lagi hehe. Pergantian status dari mahasiswa jadi pegawai magang cukup membuat tatanan aktivitas keseharian saya berubah. Coba ditelisik ya untuk hari kerja, dari bangun pagi: sebelum subuh udah mulai "gupruk" nyiapin kostum yang biasanya waktu kuliah dulu nggak pernah pusing. Jadi sekarang baru paham inilah enaknya kuliah pake seragam. Sekarang mau ke kantor pake mikir mau ber-outfit apa haha. Cewek, muslimah, bisa dipastikan "tetekbengek" nya 3-4 kali lipat lebih banyak dari laki-laki. Waktu dandan touch-up pun demikian, kadang nggak sempet sarapan cuma gara-gara ritual yang satu itu. Ah gampang sarapan mah bisa di kantin, makan siang di kantin, makan malem beli di jalan.  Bahkan, itu magic com sampe kering debuan nggak pernah dipake buat masak nasi. Paling pol pake pemanggang roti elektrik. Frekuensi ke dapur bisa dihitung jari, maksimal bikin mie, atau pancake ala-ala. Poin pertama, magang membuat saya jauh dari dapur, it's heartbreaking though :'(

Selanjutnya mau-berangkat-kerja-naik-apa juga patut direncanakan. Sering naik transjakarta, kadang nge-grab. Lalulintas jakarta yang sulit diprediksi juga nggak jarang membuat saya joging pake kostum ngantor pagi-pagi, mulai dari halte sampe parkiran tempat absen. Pernah udah lari kualitas marathon tapi tetep telat juga, tiba-tiba merasa bersalah sama prestasi lari 12 menit untuk 2,4 km. Di tengah pelarian itu, saya menyadari bahwa "aseli, lemakmu kudu dikurangi". Okelah gampang, besok kita senam. Belum selesai di berangkat kerja, pulang kerja pun seyogyanya ditentukan secara bijak. Salah-salah bisa menua di jalan :') Kangen momen ngebut-dikit-pake-motor jaman SMA, jarak rumah ke sekolah sama lah kurang lebih kayak jarak kosan ke kantor sekarang. Bedanya cuma di waktu tempuh, dulu berani berangkat 10 menit sebelum bel masuk, sekarang minimal harus 6 kali lebih awal. Poin ke dua, waktu pertumbuhan saya banyak habis di jalanan. Bijak-bijaknya diri ini mau ngapain di perjalanan, bayar utang tidur kek, ngaji kek, dzikir kek, ngobrol kek, atau merancang masa depan, tsaaah :p

Ada yang bikin kepikiran terus, dan susah dicari kapan waktu yang pas, yaituuu "nyuci". Harus terampil lah sama yang satu ini. Yang biasanya ngerasa sepet banget kalo udah liat keranjang cucian hampir penuh, sekarang mah, bodo amat :")))) Iya, pura-pura nggak peduli, abis itu tibalah saatnya mencuci, baju kotor udah dua gunung, dan saya menyesali semuanya. Betapa tidak, baju kerja cuma pantes dipake sekali, belum baju tidur, baju keluar, main, shopping, pengajian, wiiis lengkap. Poin ketiga, sesempit apapun waktu luang, baju harus tetep ada, bersih, dan rapi. Nggak cuma baju deh, apapun harus tetap dalam kondisi baik dan normal.

Intinya, hidup itu mirip "njot-njotan". Mau memberatkan satu sisi, sisi yang lain jadi terlempar. Ingin mendapatkan satu hal, yang lain harus siap dikorbankan. Dangkal tapi dalam. Sepele tapi memberatkan. Sederhana tapi menyulitkan. Kalau mau seimbang, harus pintar-pintar membagi beban. Lalalala selamat malam :D



I N S T A F E E D

Comments

Followers