Jazz, the other side of GIGI

Agustus 14, 2011

Cek cek, ehm ehm.

Pada postingan yang kesekian kalinya, saya masih membahas GIGI. Huahahahaha *ngguyu setan*. Mulai dari mana yaa.. *menghela nafas* 

Okay, liat dari album-album, single-single, karya GIGI tergolong ke genre apa ? Saya juga nggak bisa mengkategorikan genre mereka, karena GIGI mengusung banyak jenis musik di setiap lagunya. Alat-alat musik pun macem-macem. Dari gitar yang ngeraaaawks, bass disko, ukulele, sampe musik-musik timur tengah pernah mereka lahap. Tapi anak-anak GIGI menyebutnya pop alternative, kalo nggak salah. Sebut saja begitu ya. Nah, ternyata eh ternyata, mereka punya sisi lain di luar pop ini. Yaitu nge-jazz jack ! Hehehe. 

Sebenernya udah  lama sih saya denger mereka main dengan komposisi jazz. Kalo nggak salah di taun 2008 sebuah acara musik di Trans7 menayangkan duel antara GIGI vs Padi. Dua-duanya seangkatan nih, tuaan GIGI 4 tahun. Tapi ya sama-sama "tuwek". Hehe. Tapi kedua grup ini punya warna yang lumayan beda jauh. Yang sangat menonjol ya pasti dari vokalisnya, Armand yang ngerock seksi, sedangkan Fadli oppa (panggilan armand ke fadli) yang kalem tapi jagonya nada-nada tinggi dan panjang-panjang (contoh: teeetaplaaah menjadi bintang di langiiiiiiiit). Nah, di kesempatan ini ada sebuah sesi di mana mereka harus ngebawain lagu dari lawan duelnya. Padi mainin satu nomor dari GIGI yang judulnya "Janji" (ngehits banget di tahun 1995). Sedangkan GIGI memilih membawakan lagu "Sobat" miliknya Padi yang juga ngehits di era penghujung 90-an.



album "Dunia" merupakan album ke-2 GIGI
dengan single andalan "Janji"
tahun 1995

album Indie Ten adalah album kompilasi dari beberapa grup
album ini juga menjadi awal debut dari Caffein, Coklat dan Padi
tahun 1998


GIGI dapet giliran pertama ngebawain "Sobat". Saya yang saat itu juga nonton lumayan kaget pas denger mereka main. Pertama sih nggak begitu kerasa jazznya. Tapi begitu masuk ke refrain, wuaaaaah. Apaan nih ? Kok bisa dibikin kaya gini. Dibandingin aslinya yang pop-rock, sekarang jadi enak banget mengalun-alun. Saya saat itu masih kelas 3 SMP nggak ngerti masalah genre musik jazz, cuma ikut-ikut nyanyi sambil ngangguk-ngangguk nikmatin melodi jazznya GIGI. "wo o sobat, maafkan aku mencintainya, aku tak bermaksud membuatmu sungguh tak berarti" (sambil petik jari tapi nggak bunyi)

Dan, ini cuplikan videonya.


Menurut saya ini asik bangets :D hehehe. Lalu bagaimana dengan Padi ? Mereka juga ngebawain lagu GIGI dengan karakter mereka sendiri. Dengan arransemen khas Padi, dan vokal "panjang-panjang" khas Fadli oppa. Tapi, di mata saya tetep GIGI yang ngasih perubahan yang "wuah" beda banget lah pokoknya. Haha. O iya, pas GIGI lagi mainin lagu sobat, anak-anak Padi juga kayaknya kaget deh denger lagu mereka di"kayagituin". Mereka yang saling berhadapan di panggung yang terpisah beberapa meter saling memperhatikan perform satu sama lain. Lucunya, anak-anak Padi dansa-dansa gitu pas lagu mereka dibawain GIGI. Heuheueheu. Dan sebelum penampilan disambung Padi, Armand sempet bilang "mampus lu, "sobat" chord nya jadi kacau !" tentunya pake logat khas Armand, agak sunda tapi jakarte iye juge.

Nah, itu tadi adalah salah satu bukti, GIGI dengan sisi Jazznya. Terus, dari mana melodi-melodi jazz itu berasal ? Aneh kan, kalo mereka tiba-tiba nemu dalem mimpi. Karena setau saya, ngaransemen lagu tuh amit-amit gampangnya (read : wuangele !!!). Jadi inget waktu pelajaran seni musik, saking nggak ada inspirasinya bikin aransemen lagu daerah, sampe diomelin bu Beth, hiks hiks hiks.

Sekarang kita liat ke masing-masing personel.
Dewa Budjana nggak usah diraguin lagi memang diakui sebagai dewanya gitar. Di luar GIGI, beliau punya projek sendiri yang memang berada dalam koridor Jazz. Baik solo maupun grup seperti Java Jazz (bersama Indra Lesmana cs) dan Trisum (Budjana, Balawan, Tohpati,), telah mengeluarkan lumayan banyak album Jazz. Di antaranya adalah :
  
Java Jazz, Moon in Asia (1993)
diproduseri oleh Indra Lesmana

Java Jazz, Joy Joy Joy (2009)
Yg juga diproduseri oleh Indra Lesmana

Nusa Damai (1997)
Dirilis oleh Chico & Ira Production.

Gitarku (2000)
Dirilis oleh Sony BMG Music Entertainment
Samsara (2003)
Dirilis oleh Sony BMG Music Entertainment

Home (2005)
Dirilis oleh Sony BMG Music Entertainment

Trisum 1st edition (2007)
drum : Sandy Winarta
bass : Indro Hardjodikoro)

Trisum Five In One
posisi drum Sandy digantikan oleh Echa Soemantri
(yang biasanya diledek sama oki lukmand itu lho)
Nah, cukup kuat sumber jazz dari si pemain gitar yang telah merilis 8 album bergenre jazz kan. Nggak heran kalo GIGI bisa bikin aransemen dengan sangat asik.

O iya, selain Dewa Budjana, masih ada si penggebuk drum, Gusti Hendy. Personel termuda ini juga main-main di dunia jazz. Di luar GIGI, dia punya projek grup trio yang dinamai LIGRO. Juga telah merilis sebuah album.

Ligro Dictionary I (2009)
Para penggemar musik Jazz pasti tau album-album di atas. Walaupun di Indonesia ini musik mainstream nya adalah pop-melayu, tapi masih ada sekelompok penikmat jazz yang selalu setia nonton pagelaran Jazz yang akhir-akhir ini sering digelar di Jakarta. Musisi yang diundang tidak tanggung-tanggung, adalah musisi jazz bertaraf Internasional seperti  Carlos Santana, George Benson, Corrine Bailey Rae, Fourplay, Los Amigos(India), LLW, DREW, dan Roy Hargrove Quintet. Selain itu ada juga musisi lokal seperti Sandhy Sondoro, Fariz RM, Feat Barry Likumahua, Erwin Gutawa, Gigi, Tribute To Harry Roesli, Otti Djamalus-Yance Manusama, Endah & Ressa, Andine, dan masih banyak lagi.

Eh, ada GIGI juga ?? Iya memang. *bangga*
Jadi, GIGI juga didaulat menjadi pengisi festival Java Jazz 2011 kemarin. udah lama sih sebenernya tanggal 6 Maret 2011, hahahaha. Saya agak telat ya ngepostingnya, karena memang baru muncul ide sekarang ini :P Sebenarnya GIGI sudah ditawari untuk bermain di Java Jazz sejak awal festival ini ada. Tapi mereka punya alasan kenapa nggak dari dulu main di JJF. Mereka nggak mau tanggung-tanggung dalam aransemen. Mereka ingin benar-benar beda dari yang biasanya. Dan anak-anak GIGI nggak mau kalo materi yang mereka mainkan di JJF sama seperti yang biasa mereka garap. Beneran lho, ngejazz abiiiiiiiiiis ~ Di JJF ini GIGI dipasangkan dengan Ron King Big Band asal L.A. Mereka membawakan 7 lagu dari berbagai album GIGI. Terbang, 11 Januari, Distorsi Manusia, Yayaya, Melayang, Bumi Meringis, dan Nakal. Semuanya aransemen jazz.

Saya paling suka ini nih, Nakal versi JJF. Goyang abis~


Ada satu lagi yang menurut saya paling kerasa banget jazznya, beda banget dari lagu asli di kaset, Ya Ya Ya :D Tingkah Armand juga lucu nih di sini, hehehe.

Untuk video lengkapnya silahkan klik di sini !

Dan JJF di atas adalah bukti ke-2 kalau GIGI memang punya sisi Jazz. Pertanyaannya, kenapa GIGI nggak bikin album Jazz ? Jawaban paling simpel adalah "selera pasar". Yang paling berperan dalam industri musik selain para musisi tentunya adalah para penikmat musik. Nah, sekarang ini kondisi penikmat musik di Indonesia adalah cenderung kepada rock-pop-melayu. Buanyaaaak banget grup-grup bermunculan yang memang hampir sama semua tipe-tipe musiknya. Karena memang mengikuti selera pasar. Sepertinya agak naif, kalo musisi yang niatnya memang mencari nafkah tapi cuma mempertahankan idealisme dalam bermusik. Bisa aja sih, tapi tentu ada konsekuensinya. Nggak dilirik sama pihak label manapun, nggak terkenal, dan nggak banyak yang tau. Di Indonesia juga banyak yang seperti ini. Tapi kebanyakan mereka menempuh jalur "Indie". Bukan Indie Barends atau Indiahe. Indie di sini diambil dari kata "Independent" yang bisa diartikan mandiri, berdiri sendiri. Tapi orang-orang sering salah kaprah mengartikan. Yang selama ini saya denger, masyarakat selalu mengatakan kalo band Indie itu ya band-band yang genre musiknya nggak ngikutin pasar. Tapi sepertinya ini salah, karena yang dimaksud Indie di sini adalah sebuah "attitude" atau perilaku berdiri sendiri. Mungkin lebih kepada ngorbit tanpa label. Ah, gitu lah pokoknya, ehehehehe. Band indie bisa saja memainkan genre dangdut, melayu dsb. Yang penting mereka nggak terikat kontrak dengan label rekaman.

Masyarakat Indonesia pasti kenal Anang, Syahrini, Wali, Ungu, Afghan, dkk. Tapi lihatlah nama-nama seperti Gugun Blues Shelter, The S.I.G.I.T, Mocca, The Upstairs, Seringai, Barry Likumahuwa Project, apa semua kenal ? Ehm, saya rasa tidak. Ehehehe. Itulah bedanya Indie, seperti yang saya bilang tadi. Resiko nggak banyak orang yang kenal. Tapi terus terang saya lumayan banyak menggemari mereka-mereka yang menempuh jalur Indie. Sekali lagi, Indie bukanlah genre musik. Kalo nggak banyak yang kenal terus gimana dong ? Tenang.. Sekarang jamannya jaringan internet. Semua grup-grup Indie dengan leluasa bisa mengunggah karya mereka di internet.

Bahkan baru-baru ini ada sebuah grup bentukan Indra Lesmana, LLW (Love,Live,Wisdom). Nggak jauh-jauh sih personilnya dengan nama belakang Lesmana, Likumahuwa, Winarta. Mereka emang merajai showbiz Indie. Halah. Hehe. And the wonderful fact is.. LLW berhasil mencapai peringkat 18 Most Downloaded mengalahkan Norah Jones di I-Tunes dunia. Waoooow. It's cool man ;D Emang ya, Indra Lesmana cs ini pinter menyiasati pemasaran karya mereka dengan memilih I-Tunes sebagai strategi pemasaran. Saluuut.


O iya, ada lagi ni Gugun and The Bluesbug, yang sekarang ganti nama jadi Gugun Blues Shelter. Mayoritas masyarakat kita nggak kenal sama band ini, malah kebanyakan baru kenal setelah bassistnya "Jono" bule jadi host di DahSyat. Padahal prestasi mereka sangatlah "jempol". GBS berhasil menjadi pemenang dalam ajang pemilihan band pembuka konser Bon Jovi, yeaaaaa \m/


Inilah contoh buat grup-grup indie lainnya. Teruslah kreatif memperkenalkan karya-karya hebat kalian di Indonesia, kalo bisa ke seluruh duniaaa. Okay, udahan ngomongin Indie.

Eits, belom selese ternyata, GIGI juga band Indie lho. Sejak mereka memasuki usia ke 15, tepatnya tahun 2009, GIGI memutuskan untuk lepas dari pihak label manapun. Mereka tetap produktif di dalam naungan Management bentukan mereka sendiri yaitu PT Pergelaran Orang Sukses (POS Entertainment) sejak 1994. GIGI mempercayakan kepada seorang pria kecil berpenampilan nyentrik bernama Dhani Widjanarko a.k.a Dhani Pette untuk menjadi anggota ke-5 dalam GIGI (diibaratkan seperti itu ya, karena manager ini sangatlah dekat dan menyatu dengan mereka layaknya personil :P). Saat itu, hanya GIGI yang berada dalam naungan POS Entertainment yang dipimpin Pak Dhani. Hingga sekarang usia 17 tahun, POS telah berhasil membentuk Artist management, Artist Agency, Event Organizer, Audio Visual Production, Record Company, Stage, sound, and lighting. 


Dengan menaungi beberapa artis selain GIGI yaitu Omelette, EVO, Samsons, Lusy Rahmawati, Bass Heroes, Trisum. Loyalitas Pak Dhani selama 17 tahun benar-benar "wah". Dia bisa menjadi penengah dalam GIGI, dia bisa mengarahkan GIGI untuk tetap eksis di ranah musik Indonesia dengan membuat album, event tahunan (ngabuburit), iklan-iklan di TV. Bahkan dia bisa membuat GIGI tetap produktif dengan mengeluarkan album setiap tahunnya dan pasti ngehits. Salah satu hal yang bisa dibanggakan dari mereka adalah keproduktifan dalam berkarya. Di usia yang ke-17 mereka telah berhasil merilis lebih dari 20 album (kapan-kapan saya postingin albumnya, hehehehe). Oiya, mungkin kalian pernah mendengar konser 11 Januari tahun 2008 yang diadakan di Lap. Mandala Krida, Jogja. POStainment menggelar event yang menyedot lebih dari 50.000 penonton itu, tanpa sponsor dan berhasil menjadi salah satu konser terbaik sepanjang sejarah. Wuah, jempuoool lah, Pak. Dan Alhamdulillah, saya telah berkesempatan untuk berbuka puasa bersama manager nyentrik ini, di alun-alun Cilacap dengan keadaan yang sangat sederhana beberapa waktu lalu.


Okay, sepertinya pembicaraan jadi ke mana-mana, hehehehe. Yasudah, sekian dulu postingan hari ini. Bubaaaay.

You Might Also Like

0 komentar

I N S T A G R A M

Comments

Followers