Dua Vokal Tiga Konsonan

Februari 28, 2011

Judul tulisan kali ini saya angkat dari sebuah nama (terlalu vulgar kalau saya sebutkan secara gamblang)

Jadi, when I was in elementary school, muncul sebuah nama yang dalam tulisan ini saya sebut 'Dua Vokal Tiga Konsonan".

  • SIAPA SIH DIA ?

Setiap kelas terdiri atas kelas A dan B. Setiap ada kesempatan kelas ini digabung, pasti ada saja yang mencolek-colek pinggang saya saat sedang antri bersalaman dengan guru. Karena berdesak-desakan, otomatis saya tidak tahu siapa pelakunya. Jahil sekaliiiiiii bukaaaaan.
Tapi saya abaikan saja hal ini.


Sampailah pada suatu hari sesosok dua vokal tiga konsonan ini sering sekali muncul di kompleks rumah tempat saya tinggal. Entah apa yang membawanya kemari. Tapi saya berfikiran netral saja, mungkin dia sedang ingin bermain dengan anak-anak kompleks yang juga teman-teman kami di sekolah.

Tapi semua menjadi aneh. Dia sering menjahili saya. Menunggui saya setiap pulang sekolah. Dan tiba-tiba nangkring di goncengan sepeda mini milik saya. 

Beberapa waktu kemudian saya baru tahu, kalau yang selama ini mencolek-colek adalah dua vokal tiga konsonan ini.

Apa yang saya rasakan ? Malu, polos sekali ya.


  • BALLOONS and GIFTS

Semua semakin lucu ketika bulan puasa tiba. Dia datang ke masjid tempat saya biasa tarawih. Saya selalu datang lebih awal dan menaruh sajadah di barisan paling depan, tepatnya di perbatasan shaf laki-laki dan perempuan. 

Ketika rekaat demi rekaat shalat tarawih berjamaah, maka akan muncul sepasang tangan dari balik tirai pembatas, dua vokal tiga konsonan ini akan menarik-narik sajadah saya. Lalu perut saya akan sakit karena menahan tawa. Dan apabila kelepasan, setelah selesai shalat, saya pasti ditegur oleh seorang ibu yang merasa terganggu oleh suara tertawa saya. Jahiiil lagiiii.

Suatu malam, 6 November.
Semua terasa aneh. Seorang anak yang lebih kecil dari saya memanggil-manggil dari luar rumah. Saya sudah merasa heran, karena biasanya yang selalu mengajak saya ke masjid bukan anak ini.

Dibawalah olehnya saya ke suatu tempat. 

"Mbak, lewat sana aja yuuuuk ?"
"Hah, lewat sana ? Ngapain ? Kan gelap."
"Udah ikut aja lah, yuk."

Jadilah saya ikut ke tempat yang dia tunjukkan. Gelap, hanya ada seonggok Pos Ronda yang tidak terurus. 

"Ehm, ehm."

Anak kecil ini seperti memberi tanda/kode, tapi saya tidak tahu untuk apa dan kepada siapa kode ini diberikan.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara gaduh dari kolong pos ronda berbentuk panggung. Dan keluarlah sesosok yang mulai aku kenal dengan baik. Sosok yang suaranya, tingkahnya, bahkan bau bajunya sudah sangat saya hafal.



Dengan didampingi dua orang teman. Dua vokal tiga konsonan ini, keluar dari kolong tempat ia sembunyi sembari menunggu saya datang. Dengan dua buah balon gas di kedua tangannya. Saya masih ingat, salah satunya berwarna merah, dan yang lain biru. Dia menyerahkan kedua balon itu ke tangan saya. Saya menggenggam senarnya erat-erat. 

Lalu dia berkata, "terbangin, ya."

Saya bingung entah apa yang dia maksudkan dengan menyuruh saya menerbangkan kedua balon berbeda warna itu.
Karena bingung, saya menurut saja. Tapi sebelum menerbangkannya saya sempat membaca tulisan demi tulisan yang tertera di balon tersebut. Salah satunya bertuliskan nama lengkap saya, zodiak, dan mungkin seperti ramalan. Dan balon yang lain, tertulis namanya sendiri. 
Saya melepas kedua balon ini, mereka terbang bebas ke atas.

Azan berkumandang, dan kami ke masjid bersama.




Esok paginya, seperti biasa, anak-anak bermain di lapangan. Biasanya kami bermain bola kasti. Dan yang menyebalkan, setiap saya kebagian memukul bola, pasti anak laki-laki saling berebut menjadi kucing. Konon, saya paling mudah "dicekok" atau dimatikan dengan bola. Huuuuuuhuuu, sebel.


Setelah berkotor-kotor ria. Saya kembali diajak bermain di rumah salah satu teman laki-laki saya. Tapi kami sepakat pulang, dan mandi.


Singkat cerita saya dan teman perempuan saya, sampai di rumah yang sudah sepakat kami pakai sebagai tempat bermain. 


Tanpa diduga-diduga satu persatu kotak berbungkus kertas kado (saya ingat sekali kertas kado itu dipilih sendiri oleh saya di warung, karena saya diminta memilih dengan alasan untuk kado ibu dari salah satu teman saya) nakal sekaliiiii.


Berkotak kotak kado di tangan saya. Penasaran, tetapi dia tidak ingin saya membukanya saat itu. Dia bilang, buka di rumah saja.


Waktu tak berlalu begitu saja, kami bermain layaknya anak kecil pada umumnya. Kebetulan ada kotak kosmetik di sana. Tentu saja milik ibu teman saya. Tanpa pikr panjang, kami jadikan lipstik, blush on, krim pelembab, bedak dasar, sebagai senjata untuk mencoret-coret muka teman yang lain. Indah sekali.


Pulang ke rumah, saya tidak sabar membuka isi kotak-kotak tersebut. Dengan susah payah mebuka, dan susah payah mencari barang yang sekiranya berharga di antar tumpukan potongan kertas koran dan  batu-batu segenggaman tangan. Huaaaah.


Buku, buku, dan buku. Cuma itu yang saya temukan. Setelah lelah membuka-buka, tiba-tiba sesuatu berwarna merah, berbentuk daun waru alias hati menarik pandangan saya. Saya mengambil, lalu membukanya perlahan. Kalung ? Ya, sebuah kalung berwarna perak, berliontin bunga daaaaaan (dan apa ya saya lupa). Indah, dan senang. Hahahaha.


Dengan senang saya memakainya tetapi tidak saya pamer-pamerkan, karena saya tidak mau ketahuan. 


  • MALAM 17 AGUSTUS

Suatu malam, ketika semua rakyat Indonesia merayakan hari kemerdekaan RI, saya dan anak-anak kompleks lainnya melakukan tugas rutin kami. Menari, menyanyi, deklamasi.
Setelah acara usai, panggung sepi. Saya pulang ke rumah.

Ada yang aneh, tidak biasanya, teman perempuan saya datang ke rumah dan mengajak ke luar. Saya menurut saja. Diajaknyalah saya ke gang belakang, tepat di depan rumah kosong. Tampaklah si dua vokal tiga konsonan ini dengan satu teman lelakinya. Gerak-geriknya seperti akan melakukan hal yang butuh konsentrasi. "APA APAAN INI ?" fikir saya.

Beberapa menit kemudian, tidak ada yang terjadi, saya diminta duduk di sebuah pot bunga yang tinggi. Dua vokal tiga konsonan ini, jongkok sekitar setengah meter di depan saya. Lalu dia melontarkan perkataan yang saya fikir tidak pantas untuk anak SD seusia kami. Bukan perkataan biasa, ini pernyataan cinta. Cinta ? Apa benar saat itu yang dirasakan namanya cinta ? Saya pun tak begitu paham.

Ini pertama kalinya saya diperlakukan seperti ini oleh seorang laki-laki. Tentu saja saya bingung, kaget, malu, dan tidak tahu harus menjawab apa. Saya sempat diam beberapa menit. Dan kemudian kepalanya menunduk seakan sedang menangis. Tidak tahu betul-betul menangis atau tidak. Singkat cerita, kami sepakat mendengarkan jawaban saya esok pagi, lucuuuu sekaliiiii bila mengingat peristiwa ini.



Kalau tidak salah saat itu, saya berlari memutar arah, saya masuk rumah dan menutup pintu keras-keras. Dia mengejar, dan saya sempat melihat bayangannya di balik jendela. Dan sesaat setelah menutup pintu, saya baru sadar kalau saat itu ada rasa senang, bahagia. Aneh sekali, mungkin inikah ? Entah.




  • JAWABAN PENUH SESAL

Keesokan paginya, pukul 05.00 terdengar suara berisik di depan rumah. Saya hafal suara itu. Pasti dia. Saya menengok ke luar jendela. Benar saja. Dua vokal tiga konsonan dan temannya. Bodohnya saya, melongok-longok sampai diapun melihat sepasang mata bola di balik jendela, yang notabene adalah mata saya. Heeeem -___-"

Terpaksalah keluar dari rumah pagi itu. Singkat cerita, teman perempuan saya datang. Saya masih terlalu malu untuk menjawab pernyataan konyolnya tadi malam. Saya masih terlalu bingung untuk menentukan kata-kata apa yang harus saya lontarkan. Berjam-jam kami menarik ulur, menimbang-nimbang, berputar-putar kompleks, berkali-kali teman lelakinya mendatangi saya. Sampai pada saat saya duduk di depan rumah teman saya, dia menghampiri saya dg wajah sendu. Jantung saya tiba-tiba berdendang disko. Keras sekali. Lalu dia lontarkan kata-kata itu lagi. Kali ini lebih to the point. Entah apa yang mendorong saya saat itu untuk menggelengkan kepala saya. Apalagi tandanya kalau bukan menolak ? Lalu dia berpaling, berjalan ke arah jalan sempit, semakin jauh. Saat saya memandang punggungnya, saya seperti ingin berteriak "jangan pergi, aku menyesal mengatakan ini". Terlambat, saya tidak terlalu berani untuk mengatakan Ya, atau sekedar mengangguk. Saya teringat orang tua saya, saya ingin menjadi anak baik. 


Kisah tak berakhir di sini, kapan-kapan akan saya sambung lagi....


You Might Also Like

8 komentar

  1. oooooooooouuu yaampun so sweet sekali ceritamu naaaak ;') aaa terharu lhoh beneran deh, hahaha.. ayo ayo lanjutiin ! aku tungguuu ;'D

    BalasHapus
  2. hehehehe, siap mih. aku inget-inget dulu kelanjutannya..

    malu tapiiiii... wkwkwk

    BalasHapus
  3. wakakak....sungguh aku sangat tahu siapa dua vokal tiga konsonan itu. hehe :)

    BalasHapus
  4. hahaha ayoo mana nih lanjutannyaaaa, unyu unyu banget ceritanya, hahahaa ;D

    BalasHapus
  5. amel : haha, emmmmmm #$&^&*%$#



    mamih : sabar ya, kaya lg nunggu novel jilid baru ;p

    BalasHapus
  6. haha... iya unyu unyu makkkkk

    BalasHapus
  7. haha, unyu kaya sing nulis mboks ;)

    BalasHapus

I N S T A G R A M

Comments

Followers